Demi Sebuah Cinta ( Karya : Siti Arofah )

Bookmark and Share

Perpisahan ini membuah aku menjadi takut. Takut menjadi seorang diri tanpa kekasih, dan yang paling mengerikan bagiku adalah takut kehilangan kekasih. Kekasihku mengambil kuliah ke Negeri Paman Sam. Sedang aku memilih kuliah untuk di Jakarta. Kedua orang tuaku tidak mengizinkan untuk kuliah bersama Tian, ke kasihku di negeri yang katanya banyak dinanti setiap insan. Mungkin orang tuaku benar adanya, oleh karenanya aku lebih manut apa yang dikatakan oleh orang tuaku. Meski harus kutelan rasa kesendirianku ini bertahun-tahun lamanya.

Awalnya cinta kami terbilang tanpa aral melintang, Tian begitu mencintai aku. Demikian juga dengan aku. Namun kami tetap saling menjaga batas, bahwa ia masih berstatus pacarku, bukan suami. Kami saling berpacu meraih mimpi, mendapat gelar, bekerja dan setelah itu baru menikah. Aku mengenal Tian, di sebuah bimbingan belajar di Jakarta. Waktu itu, ia sering menawarkan aku untuk naik Honda Jazznya. Mengingat kami sama-sama tinggal di Bekasi. Sekali dua kali aku sering mengacugkannya. Mungkin karena Tian tidak pernah lelah menawarkan kepadaku, lama-lama aku luluh juga. Dia memang anak baik. Buktinya, di dalam mobil dia terkesan biasa-biasa saja padaku, ia ikhlas mengantarkan aku tanpa ada pamrih sedikitpun.

Hari demi hari telah kami lalui, dan kami semakin akrab, Dua bulan kemudian, aku sudah tak canggung lagi bersamanya. Tapi belakangan Tian agak sedikit bersifat aneh. Kala berbicara dan setiap ku tatap matanya, ia tampak seperti gugup. Aku sama sekali tak memperdulikan sikap aneh tersebut. Semuanya baru kuketahui saat ia tiba-tiba saja mengajakku berbicara serius. Mobil yang mulanya bergerak di jalan tol, tiba-tiba merapat ke arah jalur istirahat. Di dalam mobil itu, ia katakan jika dia ingin aku sebagai kekasihnya. Aku sama sekali yang belum punya pengalaman apapun tentang cinta, tiba-tiba saja aku mengiyakannya. Tian pun sampai terheran-heran dia bilang, " biasanya cewek kalau ditembak coba mikir dulu, tapi kamu langsung iya", Seketika itu mukaku merah, seakan menyadari kepolosanku.

Semenjak itu kami menjalin kasih, tapi aku tak di beri ruang waktu oleh mama karenanya aku sama sekali tak terbiasa lama-lama bersama Tian. Mungkin aku hanya bisa makan bareng di rumah makan cepat saji, dan itu pun cuma sebentar. Maklum, aku aku tak mau menyakiti hati mama. Untungnya Tian oke-oke saja dengan aku yang seperti ini. Akupun semakin tambah sayang kepadanya

Setengah tahun sebelum lulus SMU, lagi-lagi Tian mengajakku ngobrol dipinggir tol. " Ifa, orang tuaku menyuruhku kuliah di Amerika. itu artinya kita akan berpisah untuk sementara. " Ia menunduk seperti muram. Aku sama sekali tak bergeming, mulutku serasa kelu tak tahu harus mengucapkan apa untuknya. Mungkin karena aku terlalu shock akan kata-kata Tian. Rupanya Tian memberiku keluasaan ruang batinku. Mobil melaju kembali.

    ============== Bersambung ( Klik Di sini ) ================

{ 2 komentar... Views All / Send Comment! }

Dea Punya | Blogger Ciamis mengatakan...

Waah dramatis bgt cerpennya..
seru nihh.. ditunggu kelanjutannya ahh...

Ricko KMZ mengatakan...

T_T nice gan.......

Posting Komentar

Jangan Lupa Coment dan Kritikannya Demi Kemajuan Blog Ini, "Kami Mohon Jangan SPAM ya" Happy Blogging